PUTARAN FORENSIK - BEDANYA PEMERIKSAAN PASIEN HIDUP DAN JENAZAH

adi, kalo periksa pasien hidup tuh ada urutannya. Mulai dari inspeksi, dilihat dari ujung kepala sampe ujung kaki kondisi pasien yang terlihat mata. Rambutnya gimana.. wajahnya gimana. Kulitnya gimana. Ada luka nggak? Kukunya gimana.. perawakannya gimana. Pokoknya semua yang keliatan mata diperhatikan. Setelah itu palpasi. Diraba. Kalo ada keluhan benjolan, diraba benjolnya gimana. Keras? Lunak? Bisa digerakkan? Kalo diteken sakit nggak? Lalu periksa bagian organ dalam, apakah ukurannya masih sesuai normal atau ada pembesaran. 

Ketiga adalah perkusi. Diketuk. Terutama untuk periksa paru dan perut. Kalo paru diketok harusnya ada suara udara. Kayak ketuk drum gitu. Tapi kalo suaranya jadi pekak, artinya parunya bukan terisi udara, tapi bisa terisi cairan atau pus atau darah. Kalau perut juga sama. Harusnya ada gas sedikit di perut, kalo kebanyakan jadi kembung jadi suara gasnya tambah besar. Kayak gentong. Kalo ada cairan suara udaranya jadi berkurang. Dan kalo orangnya pindah posisi, udaranya akan menempati tempat teratas, jadi kita bisa tau itu ada cairannya. Terakhir auskultasi. Diperiksa pake stetoskop apakah suaranya masih normal. Atau ada suara tambahan. Detuk jantungnya masih berdenyut normal atau ada gallop seperti loncatan kaki kuda? Apa ada suara berisik waktu nafas? Ada mengi? Ada suara bising perut meningkat atau menurun?

Itu kalo pasien hidup. Kalo pasien mati jelas beda. Saat diotopsi, semua organ tubuh dikeluarkan satu persatu. Diperiksa dengan mata, ditimbang, lalu diperiksa sesuai kecurigaan kasusnya. Kalo kasus pasien tenggelam, paru perlu diperiksa untuk memastikan orangnya meninggal karena tenggelam beneran atau mati dulu baru ditenggelamkan. Cara periksanya namanya tes apung paru. Paru-parunya yang diperiksa. Begitu juga organ yang lain juga sama, diperiksa satu persatu, kalau perlu diambil sampelnya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Cerita lucu dari kakak kelas yang ngulang yang waktu itu papasan kita di departemen lain, dia ujian dengan kakak kelas lain yang emang santer terkenal 'patol' (aku ingetnya kita sebut dia pangdam, tapi aku asli lupa nama aslinya siapa). Kasian juga benernya, dia ga niat jadi dokter dan dia tau dia ga punya kemampuan otak untuk jadi dokter, tapi dipaksa keluarganya yang notabene keluarga tentara dengan pangkat tinggi di kota asalnya. Nah, mereka ujian, lalu dosen penguji nanyain, gimana caranya periksa paru pada pasien tenggelam? Harusnya jawabannya tes apung paru tadi. Tapi apa yang dijawab mas 'patol' tadi? Dia jawab, pertama saya inspeksi, lalu palpasi, perkusi dan auskultasi. Spontan si mas yang cerita tadi ngakak abis-abisan. Dosennya pun kehabisan kata-kata. Ga bisa meneruskan menguji lagi.

No comments:

Powered by Blogger.